Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum terbaru yang diterapkan pada jenjang sekolah di Indonesia. Pada jenjang SMP hanya terjadi 1 jenjang saja yang dikenal fase D. Hanya berlaku 1 jenjang saja maka sampai saat ini masih mengalami kendala terutama dalam hal kenaikan kelas dari peserta didik. Dikarenakan jika hanya 1 fase maka akan berimbas pada kendala kenaikan kelas yang mana semua siswa akan Naik semuanya.

Topik besar yang dijelaskan pada saat workshop terdiri atas 3 bagian yaitu Overview Kurikulum Merdeka, Penyusunan Perangkat Pembelajaran, Proyek Profil Pelajar Pancasila.

Pelaksanaan Kurikulum Merdeka diawali dengan diagnosis test sebagai awal pembelajaran. Test ini diperlukan untuk mengukur kecepatan belajar pada siswa. Karena diketahui bahwa kecepatan belajar setiap anak berbeda-beda. Hal ini didasari pada teori belajar Konstruktifistik. Teori belajar konstruktivistik mengakui bahwa peserta didik akan dapat menginterpretasi-kan informasi ke dalam pikirannya, hanya pada konteks pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri, pada kebutuhan, latar belakang dan minatnya.